Header Banjir  Sungai Mentaya Bergerak ke Hilir, Sejumlah Desa Mulai Tergenang

Banjir di Kelurahan Kuala Kuayan Kecamatan Mentaya Hulu (Foto: Ist)

Banjir  Sungai Mentaya Bergerak ke Hilir, Sejumlah Desa Mulai Tergenang

Sampit, Kanalkalteng.com - Luapan Sungai Mentaya kembali menunjukkan pola lamanya: bergerak perlahan namun pasti dari hulu ke hilir, seperti estafet yang menyapu desa demi desa di sepanjang bantaran sungai.

Baca juga: Kecelakaan di Kalteng Turun, 61 Orang Meninggal dalam Tiga Bulan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur memastikan, pergerakan banjir ini bukan kejadian tiba-tiba, melainkan pola berulang yang kini kembali terjadi akibat hujan yang terus mengguyur wilayah utara.

”Berdasarkan data masa lampau, banjir luapan Sungai Mentaya memang bergerak estafet dari hulu ke hilir. Kami terus berkoordinasi dengan para sukarelawan di desa-desa yang akan terdampak secara periodik,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Minggu (17/5/2026).

Sejak Sabtu (16/5/2026), genangan air mulai meluas di sejumlah kecamatan utara, meliputi Antang Kalang, Tualan Hulu, Telaga Antang, hingga Mentaya Hulu. 

Desa-desa di wilayah ini menjadi titik awal terdampak sebelum air bergerak lebih jauh ke hilir.

BPBD memprediksi, dalam beberapa hari ke depan, luapan air akan mencapai titik akhir di Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, wilayah yang kini disiapkan sebagai titik siaga darurat.

”Dalam beberapa hari ke depan, luapan ini diprediksi akan mencapai Desa Hanjalipan,” katanya.

Data sementara menunjukkan, banjir telah merendam sejumlah desa, yakni Desa Tumbang Mujam, Desa Bawan, Tanjung Jariangau, Kawan Baru di Kecamatan Mentaya Hulu, Desa Sungai Hanya di Kecamatan Antang Kalang, serta Desa Tumbang Sangai di Kecamatan Telaga Antang.

Dampaknya, sebanyak 99 kepala keluarga atau 219 jiwa terdampak. Infrastruktur pun ikut tergerus: tiga tempat ibadah, enam fasilitas pendidikan, satu gedung pemerintahan, serta sekitar 1.500 meter jalan desa dan kabupaten terendam. Sedikitnya 154 rumah warga juga terendam air.

Meski demikian, BPBD memastikan belum ada korban jiwa maupun gelombang pengungsian besar. 

Warga memilih bertahan dengan cara adaptif. Sebagian mengungsi ke rumah tetangga terdekat, sementara aktivitas harian di beberapa lokasi mulai mengandalkan transportasi air.

”Hingga kini belum ada korban jiwa maupun pengungsi besar. Sebagian masyarakat terdampak memilih mengungsi ke tetangga terdekat, sementara aktivitas sehari-hari di beberapa lokasi telah menggunakan moda transportasi air,” jelasnya.

Di tengah situasi tersebut, BPBD mengintensifkan langkah antisipasi. Tim Reaksi Cepat (TRC) dikerahkan untuk memantau debit air secara berkala, sembari memperkuat koordinasi lintas pihak. Mulai dari camat, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, hingga relawan di desa-desa bantaran sungai.

Selain itu, BPBD juga mulai mengumpulkan berbagai dokumen pendukung sebagai dasar penanganan yang lebih terencana, seiring potensi meluasnya dampak banjir.

Sementara itu, berdasarkan prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi Asan Sampit, curah hujan di Kotawaringin Timur diprediksi mulai menurun pada Dasarian III Mei 2026, yang berpotensi menekan risiko banjir.

Namun hingga saat itu tiba, kewaspadaan tetap menjadi kunci.

”Kami terus berupaya maksimal melakukan koordinasi, pemantauan, dan kesiapsiagaan demi mencegah dampak lebih luas dari bencana banjir ini,” pungkasnya.

Penulis: Deviana 

Editor   : Surya

Share this Post