|
03
Apr
|
Inflasi Sampit Meningkat, Belanja Nonpangan Jadi Pemicu Utama |
kanalkalteng.com , SAMPIT – Kenaikan biaya hidup di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mulai terasa semakin luas pada Maret 2026. Data terbaru menunjukkan tekanan inflasi tidak hanya dipicu kebutuhan pokok, tetapi juga mulai didorong oleh meningkatnya belanja masyarakat pada sektor nonpangan.
Baca juga: Harga Elpiji Nonsubsidi Meningkat, Warga Kotim Khawatir Gas untuk Rakyat Miskin Ikut Terdampak
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi tahunan (year-on-year) di kota ini berada di angka 3,76 persen. Angka tersebut turut mendorong Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai level 110,26.
Kepala BPS Kotim, Eddy Surahman, mengungkapkan bahwa kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar dalam kenaikan tersebut, melampaui sektor-sektor lain.
“Secara tahunan inflasi Sampit pada Maret berada di angka 3,76 persen dengan indeks harga konsumen sebesar 110,26, dan kenaikan paling besar disumbang oleh kelompok perawatan pribadi serta jasa lainnya,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Ia menjelaskan, lonjakan pada sektor tersebut bahkan menembus angka dua digit. Hal ini mencerminkan adanya peningkatan konsumsi masyarakat pada kebutuhan di luar bahan pokok sehari-hari.
Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga mengalami kenaikan signifikan, yakni di atas 6 persen. Sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau ikut memberikan kontribusi dengan kenaikan mendekati 4 persen.
Sejumlah sektor jasa lainnya turut mencatatkan kenaikan, seperti restoran, pendidikan, hingga kesehatan, meskipun peningkatannya tidak setinggi kelompok utama.
“Di sisi lain, ada kelompok yang mengalami penurunan indeks seperti perlengkapan rumah tangga yang turun 0,13 persen dan transportasi yang turun 0,50 persen,” tambahnya.
Jika dilihat secara bulanan, inflasi Sampit pada Maret tercatat sebesar 0,43 persen. Sedangkan sejak awal tahun hingga Maret (year-to-date), angkanya sudah mencapai 1,46 persen.
Eddy menilai, tren ini menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat. Meski kebutuhan pokok masih menjadi faktor penting, pengeluaran untuk sektor nonpangan kini mulai memberi kontribusi besar terhadap pembentukan inflasi di daerah.(Redaksi)