|
11
Jan
|
Pertandingan Lomba Dayung Di Sungai Mentaya Kotim Sempat Dihentikan, Seekor Buaya Masuk Lintasan |
kanalkalteng.com , Sampit -Lomba Dayung Tradisional Habaring Hurung 2026 yang digelar di Sungai Mentaya, Kelurahan Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (kotim), Kalteng, sempat dihentikan sementara setelah seekor buaya muncul ke permukaan sungai dan melintas di jalur lomba, Minggu (11/1/2026) pagi.
Baca juga: Rumah Warga di Sampit Ludes Terbakar Dini Hari, Warga Dikejutkan Suara Ledakan
Peristiwa itu terjadi menjelang dimulainya lomba dalam rangka Festival Budaya Habaring Hurung sekaligus peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kabupaten Kotawaringin Timur. Kemunculan reptil buas tersebut sontak memicu kepanikan di kalangan peserta maupun penonton yang memadati bantaran sungai.
Panitia pelaksana langsung mengambil langkah pengamanan dengan menghentikan lomba demi keselamatan. Petugas bersama panitia kemudian menyisir dan menghubungkan sepanjang Sungai Mentaya untuk memastikan buaya tidak lagi berada di sekitar arena.
“Begitu ada laporan buaya muncul di lintasan, kegiatan langsung kami hentikan. Keselamatan peserta dan penonton menjadi prioritas,” kata Koordinator Lomba Dayung Habaring Hurung, Rudi Hartono.
Setelah dilakukan pemantauan dan buaya dipastikan menjauh dari area lomba, panitia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perlombaan. Meski begitu, suasana tegang masih terasa di lokasi kegiatan.
Salah seorang warga Mentaya Seberang, Sandi, yang menyaksikan langsung kejadian tersebut, mengaku terkejut dengan kemunculan buaya yang cukup besar.
“Tiba-tiba buaya muncul di tengah sungai. Semua langsung berteriak dan panik, jadi lomba memang harus dihentikan dulu,” ujarnya.
Video kemunculan buaya tersebut juga sempat beredar di media sosial. Dalam rekaman itu terdengar suara warga yang memperingatkan peserta lomba sambil menyebut ukuran buaya yang terlihat cukup besar.
Warga setempat menyebutkan, kemunculan buaya di Sungai Mentaya bukan hal baru. Sungai tersebut memang dikenal sebagai habitat alami buaya, terutama saat aktivitas di perairan sedang ramai.
Rudi menambahkan, kejadian ini menjadi evaluasi penting bagi panitia agar ke depan pengamanan kegiatan di sungai dapat ditingkatkan, termasuk berkoordinasi dengan pihak terkait sebelum lomba digelar.
“Kejadian ini jadi pelajaran bersama. Ke depan, pengawasan akan kami perketat agar kegiatan budaya tetap berjalan aman,” tutupnya.
Penulis: Heriyanto
Editor: Heriyanto